Di sepanjang jalan kulihat berjajar warung kopi menghiasi Pendopo Agung warisan Kerajaan Majapahit, akhirnya saya memilih singgah diwarung kopi yang terdekat dengan pahatan patung maha patih Gajah Mada, tak berselang lama temanku Sliut datang dan dua gelas kopi dihidangkan oleh mbak sum si peracik kopi khas Majapait. Ku angkat segelas kopi dan ku hirup aroma citarasa tiada tara, “ternyata segelas kopi lebih setia menemani dari pada seorang kekasih” begitu guyonanku lantas kamipun terbahak-bahak. Sliut temanku notabene penulis puisi yang sering merajut kata-kata indah sebagi ekspresi luapan jiwa, semasa kita satu kelas diperguruan tinggi swasta ia sangatlah produktif dalam berkaya tak jarang teman sekelas sering dia jadikan objek penulisan. Kitapun ngobrol tentang kebudayaan lokal yang kini mulai terabaikan oleh masyarakat pewarisnya dan kubukalah topik obrolan
“sudah saatnya kearifan budaya lokal menjadi tuan rumah dinegeri sendiri”
Hal ini tak lain karena pada masa pembangunan dan era moderenitas ini teramat banyak budaya asing yang begitu mudahnya bisa diterima oleh masyarakat dan lebih ironisnya lagi kebudayaan asing sering kali dianut oleh generasi muda sebagai dalih agar taktertingal oleh perkembangan zaman. Sliut menanggapinya dengan santai dia bilang
“ Negara kita ini sebagai salah satu negara yang kaya akan budaya dan kesenian lokal, rupanya itu tak cukup kuat sebagai pijakan dikarenakan mulai dari sekolah dasar generasi muda sudah dicekoki oleh budaya asing, hal ihkwal itu sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan dunia pendidikan guna mencetak civitas akademik yang mampu menghadapi persaingan global”
Dengan kata lain Sliut mencoba membuka wacana moderenitas tuntutan pendidikan mengabaikan pelajaran yang harus diilhami dari kearifan budaya loka. Pikirku memang sepintas ujar Sliut ada benarnya juga karena saat ini tragedi konflik horizontal kearifan budaya lokal vs moderenitas telah merambah berbagai bidang antara lain Sosial, Politik, Ekonomi dan Pendidikan. Sebagai korban mutlak kearifan budaya lokal dianggap kuno dan budaya asing yang di import dari barat menjadi tolak ukur guna menghadapi perkembangan zaman. Dibelakang tempat kami duduk ada beberapa Putra Daerah dari cara berpenampilan mereka tak ubahnya seperti penyanyi musik Rege dengan style rambut gimbalnya, sedangkan di sebalahnya duduk sepasang muda mudi beramput pirang dengan bola mata berwarna biru. Rupanya sepasang muda mudi asing itu adalah Mahasiswa asing asal kota Leiden Belanda yang sedang menempuh semester akhir dan melakukan penelitian budaya lokal diarea Majapahit.
Sebatang rokor diambil Sliut seperti penyair legendaris yang dikenal sebagai si binatang jalang Sliut menyalakan rokoknya dari mulut itu keluarlah kepulan asap menyerupai vokal O. entah apa yang dipikirnya ia terus menatap sepasang mahasiswa asing itu.
“ sungguh ironis memang bahkan menuju cronis, lihat saja bagaimana budaya kita dipelajari oleh orang-orang bule”.
Sepintas aku berfikir dari ujaran Sliut yang kudengar, sebenarnya ia menyindir pemuda yang bergaya rege dan sepasang mahasiswa bule karena....
bersambung........
Rabu, 09 Juni 2010
Kamis, 06 Mei 2010

Jidor Sentulan: Jejak Warisan Prajurit Diponegoro
Oleh: Koko sake
ASAL-usul kesenian tradisional "Jidor Sentulan" pertama kali muncul pada kisaran tahun 1830-1840. Konon, kesenian ini dibawa oleh salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro pada saat Perang Diponegoro telah berhasil dipadamkan oleh Kompeni. Sekitar tahun 1830. Terbilang banyak prajurit Diponegoro yang tercerai-berai hingga berkelana ke daerah Jawa Barat dan Jawa Timur. Ada kemungkinan salah satu atau beberapa dari prajurit Diponegoro tersebut sempat tinggal atau menetap di Dusun Sentulan atau Desa Bongkot, di mana jenis kesenian ini tumbuh di sini. Dan, seiring bergulirnya waktu, kesenian ini terus bergerak dan sangat digandrungi masyarakat di sekitarnya.
Keunikan kesenian Jidor Sentulan adalah pada penampilan prosesinya. Terdapat juga upacara ritual yang merupakan unsur perpaduan antara Islam dan Dinamisme. Karena pertunjukan ini dibalut oleh unsur musik yang mengusung irama terbang jidor dan dibarengi dengan lantunan suara yang mendengungkan nada salawat.
Pertunjukan ini juga dihiasi dengan aroma wangi kemenyan, yang merupakan ritus transisi dari zaman Animisme ke kepercayaan agama Islam. Kesenian ini merupakan sebuah cermin dalam upaya melihat perkembangan Islamisasi.
Menurut cerita rakyat, Jidor Sentulan merupakan hadiah kepada mempelai yang akan menikah dan hendak masuk Islam. Selain itu, masyarakat juga menggelar kesenian ini untuk memeriahkan acara khitanan.
Jidor Sentulan memiliki keunikan dan cirik has dibanding kesenian lainnya, karena dalam kesenian ini terdapat drama rakyat yang tidak mempunyai judul cerita. Peraga utama di Jidor Sentulan adalah "jepaplok" yang digambarkan dalam bentuk harimau kumbang dengan pencitraan yang dikenal dengan sebutan "kumbang semendung".
Alkisah, cerita drama pertunjukan Jidor Sentulan berawal ketika Mbah Wiroguno sedang berburu binatang di hutan. Di tengah rimba itu dia menemukan anak harimau yang kemudian anak harimau itu diambil oleh Mbah Wiroguno dan diberi nama "Semendung". Hewan peliharaan itu dirawatnya sampai menjadi harimau dewasa.
Ragam alat musik dalam Jidor Sentulan terdiri dari 1 kendang, 3 terbang, dan 1 jidor. Prosesi penampilan jidor sentulan terdiri dari kumbang semendung yang diperagakan oleh 2 orang. Orang pertama memegang kepala si kumbang, sedangkan orang kedua memegang ekornya. Ditambah simbolisasi lainnya yakni kera. Menurut Pak Hartono, kenapa kera yang dimunculkan, hal itu disebabkan hewan ini lebih mudah untuk dicari. Secara pribadi ia ingin menggambarkan harimau itu sebagai raja hutan, dengan asesoris bebulu merak pada kumbang semendung.
Unsur magis sangat kuat dalam pertunjukan ini. Tidak jarang para pemain kesurupan atau ndadi, sebab dalam diri kumbang semendung terdapat makhluk halus sebagai penunggunya. Ketika kumbang semendung dibanting berarti pertunjukan telah usai. Harus ada ritual, sebelum memainkan kumbang semendung, tetapi kebanyakan orang yang memainkannya tidak melakukan ritual resmi dengan membawa kemenyan.
Ciri khas dari Jidor Sentulan adalah adanya unsur magis yang dibalut unsur Islam yang kental dalam bentuk terbangan dan shalawatan. Jidor sentulan dikatakan jaranan karena terpengaruh alat musik jidornya.
Tidak ada unsur tari asli dalam jenis kesenian ini. Gerak tari para pemainnya lebih mirip dengan gerak pencak silat. Seni ini hanya menggambarkan pertarungan antara kumbang semendung dengan pengembala. Menurut cerita, suatu ketika si macan tidak diberi makan oleh pemiliknya sehingga kelaparan yang pada akhirnya hendak mencaplok pemiliknya.
Lambang-lambang yang terdapat pada kesenian Jidor Sentulang melukiskan sebuah matarantai kehidupan manusia melalui para pemerannya: laki-laki dan perempuan, tua dan muda, besar dan kecil, gelap dan terang, dan siang dan malam. Sedang simbol angka tunggal atau eka bermakna bumi atau Tuhan. Pemilihan simbol angka lima mengacu pada kepercayaan tradisional Jawa, yakni keblat papat lima pancer yang berujud garis lingkaran abadi tanpa awal dan akhir yang mengacu kepada Sang Hyang Tunggal (Tuhan).
Kini, sejauh mana jenis kesenian ini berkembang, tentu khalayak umum jarang mendengar atau menanggap dan mengapresiasinya. Meski demikian, Pak Hartono, yang dilahirkan pada 1951 di Jombang, yang juga pernah berkuliah di STSI Surakarta, masih tetap mencintai dan melestarikan warisan prajurit Diponegoro ini.
Cambuk Api Icon Majapahit

Cambuk Api Icon Majapahit
(Mengungkap Rahasia Keperkasaan Prajurit Majapahit)
Cambuk api atau disebut juga ujung, merupakan suatu seni pertunjukan yang bersifat sacral, dimana dua orang ksatria laki-laki pilih tanding bertarung saling pukul dengan senjata dari Njalin (Rotan) sepanjang satu meter yang sudah direndam dengan air cabe selama tiga hari tiga malam, hal ini dilakukan guna menjadikan rotan yang sudah direndam oleh air cabe akan panar seperti api jika dicambukkan ke bagian tubuh petarung ujung. Bagian tubuh yang dijadikan sasaran adalah punggung. Meskipun dalam pertarungan antara kedua ksatria ujung sampai berdarah-darah hal ini dirasa sebagai uji kanuragan yang dimiliki oleh petarung ujung, jika darah yang keluar akibat cambukan tidak dirasa sakit maka itu pertanda kekuatan mistik yang dimiliki oleh petarung masihlah ampuh.
Kesenian cambuk api atau ujung merupakan kesenian tradisional yang ada sejak dahulu dandiberikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Untuk mengetahui asal usul kesenian ujung yaitu melalui aspek folklor atau cerita yang berasal dari para leluhur yang diceritakan ke pewaris kesenian ini. Adanya kesenian ujung yaitu karena adanya sayembara yang dilakukan oleh kerajaan majapahit untuk mencari calon-calon prajurit yang akan dijadikan ksatria pilih tanding untuk melawan prajurit Tar-tar dari Tiongkok pada masa itu.
Sebelumnya calon-calon prajurit ini harus bersemedi terlebih dahulu untuk mendapatkan kesaktiandan kekebalan tubuh. Setelah bersemedi para calon prajurit ini diadu dalam hal ketangkasan dan alat yang digunakan pada waktu itu adalah cambuk berduri. Jika para calon prajurit ini dicambuk tidak merasakan sakit maka prajurit tersebut diterima atau lolos menjadi ksatria tangguh dan ksatria ini langsung mensucikan diri di sumur sakti yang sekarang berada di desa panggih dan apabila caalon prajurit yang lain jika dicambuk masih merasa sakit maka prajurit tersebut diharuskan bersemedi lagi.
Bermula dari sepenggal kisah sayembara yang dilakukan kerajaan majapahit inilah kesenian cambuk api atau ujung sampai sekarang ini menjadi sebuah kesenian yang dilestarikan oleh masyarakat trowulan tepatnya desa Bancang dan sekitarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
