Rabu, 09 Juni 2010

Konflik horizontal kearifan budaya lokal vs moderenitas

Di sepanjang jalan kulihat berjajar warung kopi menghiasi Pendopo Agung warisan Kerajaan Majapahit, akhirnya saya memilih singgah diwarung kopi yang terdekat dengan pahatan patung maha patih Gajah Mada, tak berselang lama temanku Sliut datang dan dua gelas kopi dihidangkan oleh mbak sum si peracik kopi khas Majapait. Ku angkat segelas kopi dan ku hirup aroma citarasa tiada tara, “ternyata segelas kopi lebih setia menemani dari pada seorang kekasih” begitu guyonanku lantas kamipun terbahak-bahak. Sliut temanku notabene penulis puisi yang sering merajut kata-kata indah sebagi ekspresi luapan jiwa, semasa kita satu kelas diperguruan tinggi swasta ia sangatlah produktif dalam berkaya tak jarang teman sekelas sering dia jadikan objek penulisan. Kitapun ngobrol tentang kebudayaan lokal yang kini mulai terabaikan oleh masyarakat pewarisnya dan kubukalah topik obrolan
“sudah saatnya kearifan budaya lokal menjadi tuan rumah dinegeri sendiri”
Hal ini tak lain karena pada masa pembangunan dan era moderenitas ini teramat banyak budaya asing yang begitu mudahnya bisa diterima oleh masyarakat dan lebih ironisnya lagi kebudayaan asing sering kali dianut oleh generasi muda sebagai dalih agar taktertingal oleh perkembangan zaman. Sliut menanggapinya dengan santai dia bilang
“ Negara kita ini sebagai salah satu negara yang kaya akan budaya dan kesenian lokal, rupanya itu tak cukup kuat sebagai pijakan dikarenakan mulai dari sekolah dasar generasi muda sudah dicekoki oleh budaya asing, hal ihkwal itu sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan dunia pendidikan guna mencetak civitas akademik yang mampu menghadapi persaingan global”
Dengan kata lain Sliut mencoba membuka wacana moderenitas tuntutan pendidikan mengabaikan pelajaran yang harus diilhami dari kearifan budaya loka. Pikirku memang sepintas ujar Sliut ada benarnya juga karena saat ini tragedi konflik horizontal kearifan budaya lokal vs moderenitas telah merambah berbagai bidang antara lain Sosial, Politik, Ekonomi dan Pendidikan. Sebagai korban mutlak kearifan budaya lokal dianggap kuno dan budaya asing yang di import dari barat menjadi tolak ukur guna menghadapi perkembangan zaman. Dibelakang tempat kami duduk ada beberapa Putra Daerah dari cara berpenampilan mereka tak ubahnya seperti penyanyi musik Rege dengan style rambut gimbalnya, sedangkan di sebalahnya duduk sepasang muda mudi beramput pirang dengan bola mata berwarna biru. Rupanya sepasang muda mudi asing itu adalah Mahasiswa asing asal kota Leiden Belanda yang sedang menempuh semester akhir dan melakukan penelitian budaya lokal diarea Majapahit.
Sebatang rokor diambil Sliut seperti penyair legendaris yang dikenal sebagai si binatang jalang Sliut menyalakan rokoknya dari mulut itu keluarlah kepulan asap menyerupai vokal O. entah apa yang dipikirnya ia terus menatap sepasang mahasiswa asing itu.
“ sungguh ironis memang bahkan menuju cronis, lihat saja bagaimana budaya kita dipelajari oleh orang-orang bule”.
Sepintas aku berfikir dari ujaran Sliut yang kudengar, sebenarnya ia menyindir pemuda yang bergaya rege dan sepasang mahasiswa bule karena....

bersambung........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar