
Cambuk Api Icon Majapahit
(Mengungkap Rahasia Keperkasaan Prajurit Majapahit)
Cambuk api atau disebut juga ujung, merupakan suatu seni pertunjukan yang bersifat sacral, dimana dua orang ksatria laki-laki pilih tanding bertarung saling pukul dengan senjata dari Njalin (Rotan) sepanjang satu meter yang sudah direndam dengan air cabe selama tiga hari tiga malam, hal ini dilakukan guna menjadikan rotan yang sudah direndam oleh air cabe akan panar seperti api jika dicambukkan ke bagian tubuh petarung ujung. Bagian tubuh yang dijadikan sasaran adalah punggung. Meskipun dalam pertarungan antara kedua ksatria ujung sampai berdarah-darah hal ini dirasa sebagai uji kanuragan yang dimiliki oleh petarung ujung, jika darah yang keluar akibat cambukan tidak dirasa sakit maka itu pertanda kekuatan mistik yang dimiliki oleh petarung masihlah ampuh.
Kesenian cambuk api atau ujung merupakan kesenian tradisional yang ada sejak dahulu dandiberikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Untuk mengetahui asal usul kesenian ujung yaitu melalui aspek folklor atau cerita yang berasal dari para leluhur yang diceritakan ke pewaris kesenian ini. Adanya kesenian ujung yaitu karena adanya sayembara yang dilakukan oleh kerajaan majapahit untuk mencari calon-calon prajurit yang akan dijadikan ksatria pilih tanding untuk melawan prajurit Tar-tar dari Tiongkok pada masa itu.
Sebelumnya calon-calon prajurit ini harus bersemedi terlebih dahulu untuk mendapatkan kesaktiandan kekebalan tubuh. Setelah bersemedi para calon prajurit ini diadu dalam hal ketangkasan dan alat yang digunakan pada waktu itu adalah cambuk berduri. Jika para calon prajurit ini dicambuk tidak merasakan sakit maka prajurit tersebut diterima atau lolos menjadi ksatria tangguh dan ksatria ini langsung mensucikan diri di sumur sakti yang sekarang berada di desa panggih dan apabila caalon prajurit yang lain jika dicambuk masih merasa sakit maka prajurit tersebut diharuskan bersemedi lagi.
Bermula dari sepenggal kisah sayembara yang dilakukan kerajaan majapahit inilah kesenian cambuk api atau ujung sampai sekarang ini menjadi sebuah kesenian yang dilestarikan oleh masyarakat trowulan tepatnya desa Bancang dan sekitarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar